Pentingnya Mengatur Tingkat Kekerasan Bunyi Klakson Pada Kendaraan

Klakson merupakan salah satu syarat kelengkapan penting bagi semua jenis kendaraan. Terompet elektromagnetik pada kendaraan ini berfungsi sebagai alat komunikasi antar kendaraan. Layaknya bahasa pada manusia, penggunaan klakson juga memiliki etikanya tersendiri. Untuk menekan peningkatan polusi suara, tinggi rendahnya bunyi klakson harus diatur sedemikian rupa. Hal ini bahkan telah ditetapkan dalam aturan pemerintah dan wajib dipatuhi oleh sejumlah produsen kendaraan.

Dilansir dari hukumonline.com, aturan bunyi klakson telah diatur dalam Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No.55 Tahun 2012 pasal 39 dan 69, yaitu: Suara klakson paling rendah 83 desibel atau dB (A) dan paling tinggi 118 desibel dB (A).

Suara klakson yang terlalu tinggi bisa mengganggu konsentrasi pengendara lainnya. Jangan sampai klakson yang Anda bunyikan membuat pemakai lain terkejut akibat suaranya yang terlalu kencang. Sebaliknya, jika suara terlalu rendah, komunikasi antar mobil mungkin tidak akan tersampaikan dan bisa berakibat fatal.

Menilik dari seberapa penting tingkat kekerasan bunyi klakson, hal ini tentunya memerlukan perhatian khusus dari Anda selaku pengendara. Oleh karena itu, jika Anda berniat mengganti suara klakson kendaraan sudah semestinya memperhatikan syarat yang sudah ditetapkan.

Meski bunyi klakson Anda sudah memenuhi syarat, Anda tetap harus memperhatikan cara membunyikan klakson yang benar. Modifikasi di bagian klakson tentu hal yang sangat menarik untuk dilakukan. Akan tetapi, jangan sampai hal itu menimbulkan merugikan pada orang lain. (AS)

Tag: Pengertian Klakson, Fungsi Klakson, Peraturan Hukum yang Mengatur Bunyi Klakson, PP RI No.55 tahun 2012 pasal 39 dan 69, Akibat Suara Klakson yang Terlalu Rendah dan Tinggi, Mengganti Klakson Agar Sesuai Hukum

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *